Acquired immunodeficiency syndrome (AIDS) adalah penyakit yang disebabkan oleh infeksi-infeksi human immunodeficiency virus (HIV). Penyebaran HIV ini berkembang dengan cepat dan mengenai wanita dan anak-anak. Acquired immunodeficiency syndrome menyebabkan kematian lebih dari 20 juta orang setahun. Saat ini di seluruh dunia kira-kira 40 juta orang dewasa berusia 15-45 tahun yang hidup dengan infeksi HIV.

Laporan terbaru United Nations Programme on HIV and AIDS (UNAIDS) menunjukkan jumlah orang dengan HIV meningkat di 50 negara, termasuk Indonesia, dengan lebih dari 1,8 juta orang baru terinfeksi virus mematikan ini pada tahun 2017. Yang lebih menyedihkan, 180 ribu anak (0-14 tahun) terinfeksi virus tersebut tahun lalu dan 110 ribu anak meninggal karena penyakit yang terkait dengan AIDS.

Berdasarkan data Komisi Penanggulangan Aids Daerah (KPAD) Purbalingga tahun 2017, sebanyak 10 bayi dan 22 balita di Purbalingga terpapar penyakit yang membuat tubuh manusia kehilangan sistem imun ini.

Hingga saat ini belum ditemukan imunisasi profilaksis atau pengobatan AIDS, meskipun demikian terapi antiretrovirus seperti highly active antiretroviral therapy (HAART) tetap dikembangkan. Penggunaan obat antivirus dan persalinan berencana dengan seksio sesaria telah menurunkan angka transmisi perinatal penyakit ini dari 30% menjadi 20%.

RSUD dr. R. Goeteng Taroenadibrata Purbalingga sejak tahun 2014 sampai saat ini memberikan pengobatan terhadap 152 pasien HIV dengan 27 diantaranya adalah wanita hamil. Sejak tahun 2018 RSUD dr. R. Goeteng Taroenadibrata Purbalingga telah mampu melakukan Seksio sesaria pada kasus HIV, ditahun pertama kita telah melakukan SC untuk 4 orang pasien dan untuk tahun 2019 sampai pertengahan September sudah dilakukan 7 kasus SC pada pasien HIV positif.

AIDS dikarakteristikkan sebagai penyakit imunosupresif berat yang sering dikaitkan dengan infeksi oportunistik dan tumor ganas serta degenerasi susunan saraf pusat. HIV menimbulkan infeksi berbagai macam sistem sel imun, termasuk CD4+, makrofag, dan sel dendrit.

GAMBARAN KLINIS

Gambaran klinis infeksi HIV terdiri atas tiga fase sesuai dengan perjalanan infeksi HIV itu sendiri, yaitu: Serokonversi, Penyakit HIV asimtomatik, Infeksi HIV simtomatik atau AIDS.

1. Serokonversi

Serokonversi adalah masa selama virus beredar menuju target sel (viremia) dan antibodi serum terhadap HIV mulai terbentuk. Sekitar 70% pasien infeksi HIV primer menderita sindrom mononucleosis-like akut yang terjadi dalam 2 hingga 6 minggu setelah infeksi awal,yang dikenal juga sebagai sindrom retroviral akut (acute retroviral syndrome; ARS). Sindrom ini terjadi akibat infeksi awal serta Sindrom ini memiliki bermacam–macam manifestasi, gejala yang paling umum mencakup demam, lemah badan, mialgia, ruam kulit, limfadenopati, dan nyeri tenggorokan (sore throat). Selama masa ini terjadi viremia yang sangat hebat dengan penurunan jumlah limfosit CD4.

2. Penyakit HIV Asimtomatis

Setelah infeksi HIV akut dengan penyebaran virus dan munculnya respons imun spesifik HIV, maka individu yang terinfeksi memasuki tahap kedua infeksi. Tahap ini dapat saja asimtomatis sepenuhnya. Istilah klinis ‘laten’ dulu digunakan untuk menandai tahap ini, namun istilah tersebut tidak sepenuhnya akurat karena pada tahap laten sejati (true latency),replikasi virus terhenti sementara. Jika tidak diobati masa laten infeksi HIV dapat berlangsung 18 bulan hingga 15 tahun bahkan lebih, rata-ratanya 8 tahun. Pada tahap ini penderita tidak rentan terhadap infeksi dan dapat sembuh bila terkena infeksi yang umum. Jumlah CD4 sel T secara perlahan mulai turun dan fungsinya semakin terganggu. Penderita dengan masa laten yang lama, biasanya menunjukkan prognosis yang lebih baik.

3. Infeksi HIV simtomatik atau AIDS.

Jika terjadi penurunan jumlah sel CD4 yang meningkat disertai dengan peningkatan viremia maka hal tersebut menandakan akhir masa asimtomatik. Gejala awal yang akan ditemui sebelum masuk ke fase simtomatik adalah pembesaran kelenjar limfe secara menyeluruh (general limfadenopati) dengan konsistensi kenyal, mobile dengan diameter 1cm atau lebih. Seiring dengan menurunnya jumlah sel CD4+ dan meningkatnya jumlah virus di dalam sirkulasi akan mempercepat terjadinya infeksi oportunistik.

Sebagian besar permasalahan yang berkaitan dengan infeksi HIV terjadi sebagai akibat langsung hilangnya imunitas selular (cellmediated immunity) yang disebabkan oleh hancurnya limfost T-helper CD4+. Orang dengan penurunan jumlah sel CD4+ hingga kurang dari 200 sel/mm3 dikatakan menderita AIDS, meskipun kondisi ini tidak disertai dengan adanya penyakit yang menandai AIDS. Definisi ini mencerminkan peningkatan kecenderungan timbulnya masalah yang berkaitan dengan HIV yang menyertai rendahnya jumlah sel CD4+ secara progresif. Setelah AIDS terjadi, maka sistem imun sudah sedemikian terkompensasi sehingga pasien tidak mampu lagi mengontrol infeksi oleh patogen oportunis yang pada kondisi normal tidak berproliferasi, serta menjadi rentan terhadap terjadinya beberapa keganasan. Pasien dengan AIDS yang tidak diobati rata-rata meninggal dalam jangka waktu 1-3 tahun. Terapi yang telah tersedia saat ini telah memperbaiki prognosis pasien infeksi HIV secara signifikan.

Penularan

Penularan HIV secara umum dapat terjadi melalui 4 jalur, yaitu :

  1. Kontak seksual

HIV terdapat pada cairan mani dan sekret vagina yang akan ditularkan virus, baik pada pasangan homoseksual atau heteroseksual. Kerusakan pada mukosa genitalia akibat penyakit menular seksual seperti sifilis dan chancroid akan memudahkan terjadinya infeksi HIV.

  • Tranfusi

HIV ditularkan melalui tranfusi darah baik itu tranfusi whole blood, plasma, trombosit, atau fraksi sel darah lainnya.

  • Jarum yang terkontaminasi

Penularan dapat terjadi karena tusukan jarum yang terinfeksi atau bertukar pakai jarum di antara sesama pengguna obat-obatan psikotropika.

  • Penularan vertikal (perinatal)

Penularan vertikal adalah penularan penyakit dari ibu ke janin, dapat terjadi selama kehamilan, saat persalinan, dan menyusui. Menurut penelitian wanita yang teinfeksi HIV mempunyai peluang menularkan infeksi kepada bayi yang baru dilahirkannya melalui plasenta atau saat proses persalinan atau melalui air susu ibu sebanyak 15-40%.

Penyakit yang Menandai AIDS (Menurut National Institute of Allergy and Infectious Diseases).

· Kandidiasis: esofageal, trakeal, atau bronkial

· Koksidiomikosis, ekstrapulmoner

· Kriptokokosis, ekstrapulmoner

· Kanker serviks, infasif

· Kriptosporidiosis, intestinal kronik (>1 bulan)

· CMV renitis, atau CMV di hati, limpa, nodul limfatik

· Enselopati HIV

· Herpes simpleks dengan ulkus mukokutaneus > 1 bulan, bronkitis atau pneumonia

· Histoplasmosis: tersebar atau ekstrapulmoner

· Isosporiasis, kronik > 1 bulan

· Kaposi sarkoma

· Limfoma: Burkitt, imunoblastik, khususnya di otak

· M. avium atau M. kansasii, ekstrapulmoner

· M. tuberculosis, pulmoner atau ekstrapulmoner

· Pneumonia Pneumosistis carinii

· Pneumonia, bakteri rekurens (= 2 episode per tahun)

· Leukoensepalopati multifokal

· Bakteremia salmonela

· Toksoplasmosis, serebral

· Wasting syndrome HIV

KEHAMILAN PADA AIDS

Kadar plasma HIV dan sel CD4 merupakan penanda beratnya penyakit. Kadar rata-rata CD4 pada orang dewasa sehat 500 – 1.500 sel/ìL. Pada semua wanita hamil kadar CD4 menurun 543±169 sel/ìL tetapi tidak menggambarkan terinfeksi atau tidaknya wanita tersebut oleh HIV. Kehamilan tidak dihubungkan dengan beratnya AIDS.

Infeksi HIV meningkatkan insidensi gangguan pertumbuhan janin dan persalinan prematur pada wanita dengan penurunan kadar CD4 dan penyakit yang lanjut. Tidak ditemukan hubungan kelainan kongenital dengan infeksi HIV.

PENULARAN VERTIKAL

Pada ibu hamil yang tidak diberikan obat HAART selama kehamilan, 80% terjadi transmisi penyakit dari ibu ke janin pada usia kehamilan lanjut (di atas 36 minggu), saat persalinan dan setelah persalinan. Penularan penyakit dari ibu ke janin terjadi selama trisemester I dan II kehamilan kurang dari 2%. Intervensi dengan obat HAART, seksio sesaria, dan tidak menyusui akan menurunkan risiko penularan penyakit dari ibu ke janin dari 25-30% menjadi < 2%.

Tabel 1. Faktor-faktor Risiko Penularan Vertikal HIV

Faktor Ibu Kejadian Inpartum
Kadar CD4 yang rendah Tingginya kadar viral bad Korioamnionitis AIDS yang lanjut Adanya antigen p24 dalam serum ibu Ketuban pecah dini buatan Ketuban pecah dini > 4 jam Penggunaan alat-alat pada persalinan Persalinan premature Penggunaan scalp monitor

Penatalaksanaan Saat Persalinan

Wanita hamil dengan viral load < 50 kopi/mL saat pemberian HAART pada usia kehamilan 36 minggu dianjurkan melahirkan pervaginam. Keadaan ini tidak dianjurkan pada riwayat operasi dinding rahim, adanya kontra indikasi melahirkan pervaginam, infeksi genitalia berulang, dan diprediksi persalinannya akan berlangsung lama. Wanita hamil dengan HIV positif, tetapi tidak mendapat pengobatan HAART selama kehamilannya, seksio sesaria merupakan pilihan untuk mengurangi transmisi penyakit dari ibu ke janin.

  1. Persalinan pervaginam

Wanita hamil yang direncanakan persalinan pervaginam, diusahakan selaput amnionnya utuh selama mungkin. Pemakaian elektroda fetal scalp dan pengambilan sampel darah janin harus dihindari. Jika sebelumnya telah diberikan obat HAART, maka obat ini harus dilanjutkan sampai partus. Jika direncanakan pemberian infus zidovudin, harus diberikan pada saat persalinan dan dilanjutkan sampai tali pusat diklem.

Dosis zidovudin adalah: dosis inisial 2 mg/kgBB dalam 1 jam dan dilanjutkan 1 mg/kgBB/jam sampai partus. Tablet nevirapin dosis tunggal 200 mg harus diberikan di awal persalinan. Tali pusat harus diklem secepat mungkin dan bayi harus dimandikan segera. Seksio sesaria emergensi biasanya dilakukan karena alasan obstetrik, menghindari partus lama, dan ketuban pecah lama.

  • Seksio Sesaria

Pada saat direncanakan seksio sesaria secara elektif, harus diberikan antibiotik profilaksis. Infus zidovudin harus dimulai 4 jam sebelum seksio sesaria dan dilanjutkan sampai tali pusat diklem. Sampel darah ibu diambil saat itu dan diperiksa viral load-nya. Tali pusat harus diklem secepat mungkin pada saat seksio sesaria dan bayi harus dimandikan segera.

Persalinan dengan seksio sesaria maupun persalinan vaginal pada kasus HIV harus didukung dengan penyediaan sarana dan prasarana yang memadai mulai dari perangkat Alat Pelindung Diri (APD) untuk penolong dan tim operasi, kesiapan ruang bersalin, kamar operasi dan perinatal, kesiapan peralatan dan pengelolaan sampah-limbah medis sesuai ketentuan untuk memberikan tata laksana sesuai standar dan mencegah penularan kepada tenaga kesehatan.

Dengan semakin banyaknya kasus kehamilan dengan HIV ini maka sebaiknya seluruh unit terkait senantiasa berkordinasi dengan baik. Di Kabupaten Purbalingga baru RSUD dr. R. Goeteng Taroenadibrata yang mampu secara baik memberikan layanan pada kasus persalinan dengan HIV.

Gambar 1. Persiapan seksio sesaria pada kasus HIV

Gambar 2. Operasi seksio sesaria pada kasus HIV

Gambar 3. Perawat di Perinatal Menggunakan APD Lengkap Untuk Merawat Bayi Dari Ibu HIV Positif